Kamis, 11 Desember 2014

Kesiapan Perusahaan dalam Menghadapi Dunia yang Tidak Mengenal Batas dengan Bekerja Secara Internasional

Kesiapan Perusahaan dalam Menghadapi Dunia yang Tidak Mengenal Batas dengan Bekerja Secara Internasional
Elysabet Christy – 3203013244
Jurusan S1 Akuntansi, Fakultas Bisnis
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
ABSTRAK
Melakukan bisnis global saat ini tidaklah mudah. Para manajer menghadapi tantangan yang serius. Tantangan meningkat dari asosiasi yang terbuka dengan globalisasi dan dari perbedaan budaya yang signifikan. Perubahan yang sangat cepat yang terjadi dalam lingkungan bisnis telah secara otomatis menuntut setiap pelaku bisnis untuk selalu memberikan perhatian dan tanggapan terhadap lingkungannya. Hal ini mengkondisikan perusahaan untuk kemudian merumuskan strategi agar mampu mengantisipasi perubahan dan pencapaian tujuan perusahaan. Didasari atas pentingnya perumusan strategi, proses perumusan strategi merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk menemukan strategi yang tepat bagi perusahaan. Rangkaian kegiatan yang diperlukan meliputi analisis lingkungan perusahaan, baik lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Analisis ini berguna untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dapat memperlancar ataupun menghambat perkembangan perusahaan.
Kata kunci     :           Globalisasi, strategi pasar
1.            PENDAHULUAN
Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak pada semakin ketatnya persaingan dan semakin cepatnya terjadi perubahan pada lingkungan usaha. Barang-barang hasil produksi dalam negeri saat ini sudah harus langsung berkompetisi dengan produk-produk dari luar negeri, dan perusahaan harus menerima kenyataan bahwa pesatnya perkembangan teknologi mengakibatkan cepat usangnya fasilitas produksi, semakin singkatnya daur hidup produk, dan keuntungan yang didapat pun akan semakin rendah. Lingkungan bisnis yang dihadapi oleh perusahaan perusahaan di dunia semakin bergejolak, terutama sejak terjadinya krisis global dan perubahan pemerintahan berikut gejolak sosial di dalam negeri pada awal tahun 2009. Apalagi dengan kondisi internal kebanyakan perusahaan yang memburuk dan bangkrutnya sebagian perusahaan, menjadikan perhatian terhadap pengaruh dan dampak faktor-faktor lingkungan eksternal perusahaan menjadi sangat penting. Perubahan lingkungan bisnis akan terjadi setiap saat, umumnya berupa gerak perubahan dari salah satu atau gabungan faktor-faktor lingkungan luar perusahaan, baik pada skala nasional, regional maupun global. Sebagian dari dampak yang mereka timbulkan banyak terbukti telah mempengaruhi datangnya berbagai kesempatan usaha (business opportunities), tetapi banyak pula rekaman contoh kasus dari faktor eksternal ini yang menjadi kendala dalam berusaha (business threats and constraints).
Kesuksesan mengelola lingkungan global saat ini akan membutuhkan sensitivitas dan pengertian yang luar biasa. Sehingga, Para manajer perlu menyadari bahwa apa yang mereka putuskan dan lakukan akan diperhatikan tidak hanya oleh mereka yang mungkin setuju tetapi yang paling penting oleh mereka yang tidak setuju. Olehnya, para manajer perlu menyesuaikan gaya kepemimpinan dan pendekatan manajemennya untuk mengakomodasikan perbedaan pandangan  .namun, seperti biasanya para manajer akan perlu untuk dapat melakukan hal ini  sambil sedapat mungkin tetap efisien dan efektif dalam mencapai tujuan organisasi.
1.            TINJAUAN PUSTAKA
2.1       DUNIA YANG TIDAK MENGENAL BATAS
Dewasa ini, perusahaan-perusahaan bersaing di sebuah dunia tanpa batas.  Di dunia yang tidak mengenal batas, para pelanggan tidak lagi bisa membedakan dari negara mana mereka membeli berbagai produk. Bagi para manajer yang berpikir global, dunia ini merupakan sumber ide-ide, sumber daya, informasi, tenaga kerja, dan pelanggan. Para manajer dapat memindahkan perusahaan mereka ke kancah internasional di berbagai tingkat, seperti :
1      #Pada tahap domestik, potensi pasar hanya terbatas di negara asal, dengan seluruh fasilitas produksi dan pemasaran yang berlokasi di negara asal.
2    #Pada tahap internasional, di tahapan ini ekspor meningkat, dan perusahaan biasanya mengadopsi pendekatan multidomestik, artinya setiap persaingan di setiap negara ditangani secara independen. Desain, pemasaran, dan pengiklanan produk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus di setiap negara, sehingga memerlukan kepekaan yang tinggi terhadap nilai-nilai dan kepentingan lokal.
3      #Pada tahap multinasional, perusahaan memiliki fasilitas pemasaran dan produksi di banyak negara, dengan lebih dari sepertiga penjualannya berasal dari luar negeri. Perusahaan seperti ini mengadopsi pendekatan globalisasi, artinya mereka berfokus untuk memasarkan produk serupa ke banyak negara. Desain, pemasaran, dan pengiklanan produk dilakukan secara seragam di seluruh dunia.
T      #Tahap yang terakhir adalah tahap global atau tanpa negara, dari pembangunan perusahaan internasional melampaui batas-batas suatu negara. Perusahaan jenis ini beroperasi secara global, dengan melakukan penjualan dan mendapatkan sumber daya dari negara mana pun yang menawarkan peluang terbesar dan biaya terendah. Pada tahap ini, kepemilikan, kendali, dan manajemen puncak cenderung tersebar di beberapa negara.
2.2       MEMULAI BEKERJA SECARA INTERNASIONAL
            Ada beberapa cara bagi organisasi untuk memasuki kancah internasional. Salah satunya adalah dengan mencari sumber daya bahan baku atau tenaga kerja yang lebih murah di luar negeri, yang disebut dengan offshoring atau outsourching global. Strategi-strategi memasuki pasar ini merupakan cara-cara alternatif untuk menjual barang dan jasa ke luar negeri.
2.2.1   Ekspor
Strategi memasuki pasar asing yang dilakukan oleh organisasi dengan cara mempertahankan fasilitas produksinya di dalam negeri dan menjualnya ke luar negeri. Ekspor memang mengandung sejumlah permasalahan yang diakibatkan oleh jarak, peraturan pemerintah, mata uang asing, dan perbedaan budaya, namun lebih murah dibandingkan dengan mengalokasikan modal perusahaan untuk membangun pabrik di negara sasaran.
2.2.2   Outsourcing
            Outsourcing global, dikenal juga dengan istilah offshoring, berarti melaksanakan pembagian tenaga kerja secara internasional sehingga aktivitas pekerjaan dapat dilakukan di negara-negara dengan sumber tenaga kerja dan pasokan termurah. Jutaan lapangan kerja tingkat bawah seperti pembuatan tekstil, pusat layanan panggilan, dan pemrosesan kartu kredit dikerjakan melalui outsourcing ke negara-negara dengan upah rendah selama beberapa tahun terakhir.
2.2.3   Lisensi
            Tahapan berikutnya dari pasar internasional adalah lisensi. Lewat lisensi, perusahaan (pelisensi) di satu negara memastikan ketersediaan sumber daya bagi perusahaan (terlisensi) di negara lain. Lisensi merupakan strategi yang dilakukan oleh organisasi untuk memasuki pasar internasional dengan cara memastikan ketersediaan sumber daya bagi perusahaan di negara lain untuk berpartisipasi dalam produksi dan penjualan produknya di luar negeri.
            Bentuk khusus dari lisesnsi adalah waralaba (franchising), yang dilakukan ketika usaha waralaba membeli paket lengkap bahan baku dan layanan, termasuk peralatan, produk, bahan baku produk, merek dan nama dagang, saran manajerial, dan sistem operasi terstandar.
2.2.4  Investasi Langsung
            Bentuk keterlibatan dalam pasar internasional yang lebih tinggi adalah investasi langsung di fasilitas produksi luar negeri. Investasi langsung (direct investing) berarti bahwa perusahaan terlibat dalam mengelola aset-aset produktif, yang membedakannya dengan strategi lain yang hanya menungkinkan kontrol yang lemah. Pilihan lainnya adalah mendirikan cabang luar negeri yang dimiliki dan dapat dikendalikan secara penuh oleh perusahaan. Mengakuisisi sebuah cabang secara langsung dapat menghemat biaya ekspor, penyimpanan, dan transportasi.
2.3       LINGKUNGAN BISNIS INTERNASIONAL
            Manajemen internasional (international management) adalah manajemen operasi bisnis yang dilakukan di lebih dari satu negara. Tugas-tugas mendasar manajemen bisnis, termasuk pendanaan, produksi, serta distribusi barang dan jasa, tidak banyak berubah ketika suatu perusahaan melakukan transaksi bisnis di tingkat internasional. Fungsi-fungsi manajemen dasar perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian tidak berubah ketika suatu perusahaan beroperasi baik di kancah domestik maupun internasioal.

2.4       LINGKUNGAN EKONOMI  
            Lingkungan ekonomi adalah kondisi ekonomi di negara tempat organisasi internasional beroperasi. Lingkungan ini terdiri atas berbagai faktor seprti pembangunan ekonomi, pasar sumber daya dan produk, serta nilai tukar. Disamping itu, faktor-faktor seperti inflasi, tingkat suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi juga merupakan bagian dari lingkungan ekonomi internasional.
2.4.1   Pembangunan Ekonomi
            Pembangunan ekonomi di berbagai negara dan wilayah di dunia sangat beragam. Negara-negara tersebut dapat dikategorikan sebagai negara berkembang atau negara maju. Kriteria tradisional yang digunakan untuk mengelompokkan negara-negara menjadi negara maju atau berkembang adalah pendapatan per kapita, yaitu pendapatan yang dihasilkan dari produksi barang dan jasa suatu negara dibagi dengan jumlah penduduk.
2.4.2   Pasar Sumber Daya dan Produk
            Ketika menjalankan bisnis di negara lain, para manajer harus mengevaluasi tuntutan pasar akan produk mereka. Jika tuntutannya tinggi, mereka dapat memutuskan untuk mengekspor produk mereka ke negara tersebut. Namun, untuk mendirikan pabrik baru, pasar sumber daya sebagai penyedia bahan baku dan tenaga kerja juga harus tersedia.
2.4.3   Nilai Tukar
            Nilai tukar (exchange rate) adalah nilai tukar mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Fluktuasi nilai tukar merupakan kekhawatiran utama bagi perusahaan-perusahaan yang berbisnis di kancah internasional. Perubahan nilai tukar dapat berdampak besar bagi daya untung bisnis internasional yang menukarkan jutaan dolar dengan mata uang lain setiap hari.
2.5       LINGKUNGAN POLITIK-HUKUM
            Perusahaan-perusahaan harus berhadapan dengan sistem politik asing ketika memasuki kancah internasional, di samping dengan pengawasan dan peraturan pemerintah yang lebih ketat. Risiko politik (political risk) didefinisikan sebagai risiko kehilangan aset, daya untung, atau kontrol manajemen karena peraturan atau tindakan politik dari pemerintah tuan rumah. 
            Masalah lain yang sering disinggung adalah ketidakstabilan politik (political instability), yang mencakup kerusuhan, revolusi, kekacauan sipil, dan peralihan kekuasaan yang sering terjadi. Undang-undang yang beragam juga menjadi tantangan bagi perusahaan internasional dalam menjalankan bisnis. Pemerintah tuan rumah memiliki banyak peraturan mengenai status sengketa, perlindungan konsumen, informasi dan pelabelan, ketenagakerjaan dan keamanan serta upah. Perusahaan internasional harus mempelajari peraturan-peraturan dan regulasi ini serta mematuhinya.
2.6       LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA
            Kebudayaan suatu negara meliputi pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai kebersamaan, di samping cara berperilaku dan berpikir sesama anggota masyarakat. Faktor budaya sering lebih membungungkan daripada faktor-faktor politik dan ekonomi ketika bekerja atau tinggal di luar negeri
2.6.1   Perbedaan Komunikasi
            Di kebudayaan berkonteks tinggi, masyarakatnya peka terhadap situasi disekeliling pertukaran sosial. Budaya yang mengutamakan komunikasi untuk meningkatkan hubungan pribadi. Sedangkan kebudayaan berkonteks rendah, masyarakatnya berkomunikasi terutama untuk bertukar fakta dan informasi. Budaya yang mengutamakan komunikasi untuk saling bertukar fakta dan informasi.
2.6.2   Karakteristik Kebudayaan Lain
            Karakteristik kebudayaan lain yang memengaruhi organisasi internasional adalah bahasa, agama, organisasi sosial, pendidikan, dan sikap. Sikap terhadap prestasi, pekerjaan, dan sesama manusia semuanya dapat memengaruhi produktivitas organisasi. Etnosentrisme, yaitu kecenderungan alamiah manusia untuk memandang tinggi kebudayaan mereka dan memandang rendah kebudayaan lain, dapat dijumpai di semua negara. Sikap etnosentris yang kuat di suatu negara dapat menyulitkan bagi perusahaan asing yang beroperasi di sana.
2.7       PERUSAHAAN MULTINASIONAL
            Ukuran dan volume bisnis multinasional sedemikian besar, sehingga sulit dibayangkan. Sebagai contoh, nilai tambah, jumlah total gaji, laba sebelum pajak, dan beban penyusutan dan amortisasi. Sebagaimana dibahas di awal, sejumlah besar volume bisnis internasional dilaksanakan di dunia yang makin tanpa batas  
oleh perusahaan-perusahaan internasional yang dapat dipandang sebagai perusahaan global, perusahaan tanpa negara, atau perusahaan transnasional.
            Perusahaan multinasional (multinational corporation-MNC) biasanya memperoleh lebih dari 25 persen pendapatan penjualan totalnya dari operasi luar negeri. MNC memiliki karakteristik manajerial khas berikut ini :
1.      MNC dikelola sebagai sebuah sistem bisnis terintegrasi yang mendunia, dengan cabang-cabang luar negeri yang bertindak dan saling bekerja sama.
2.      MNC pada dasarnya dikontrol oleh kewenangan manajemen tunggal yang membuat keputusan-keputusan strategis penting yang berhubungan dengan perusahaan induk dan cabang.
3.      Para manajer puncak MNC diharuskan untuk memiliki perspektif global.
2.8       MENGELOLA LINGKUNGAN GLOBAL
            Para manajer baru yang ingin memajukan kariernya sadar akan pentingnya pengalaman di kancah global. Namnun bekerja di negara asing dapat menimbulkan tantangan pribadi dan organisasi yang sangat besar. Kompleksitas pekerjaan di kancah internasional ditunjukan oleh sebuah penelitian tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan para manajer.
2.8.1   Mengembangkan Kecerdasaan Budaya
            Para manajer akan berhasil melaksanakan tugas mereka di kancah internasional jika mereka bersikap fleksibel terhadap budaya dan dapat beradaptasi dengan mudah terhadap situasi dan cara kerja baru. Kecerdasan budaya (cultural intelligence) adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan daya pikir dan pengamatannya untuk menafsirkan bahasa tubuh dan situasi baru serta memberikan respons perilaku yang sesuai.
            Sangat penting bagi para manjaer yang berkeja di negara asing untuk mempelajari bahasa yang digunakan di negara tersebut, di samping mempelajari norma-normas, adat-istiadat, kepercayaan, dan hal-hal yang dianggap tabu di sana. Namun pengetahuan mengenai hal-hal tersebut tidak menjamin para manajer dapat menghadapi semua situasi. Mengembangkan CQ tinggi memungkinkan seseorang untuk menafsirkan berbagai situasi asing dan beradaptasi dengan cepat. 
            Gegar budaya (culture shock) adalah rasa frustasi dan kegelisahan yang disebabkan oleh situasi yang aneh atau asing. Orang dengan CQ tinggi mampu melewati periode awal gegar budaya. Aspek fisik CQ adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan gaya bicara, ekspresi, dan bahasa tubuhnya dengan budaya setempat. CQ tinggi mengharuskan manajer untuk bersikap terbuka dan menerima ide-ide dan cara baru. Dengan kata lain, CQ mengharuskan pikiran, perasaan, dan tubuh bertindak secara harmonis.
4.            METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk penelitian penjelasan (explanatory research). Lokasi penelitian dilakukan dengan melibatkan 116.500 karyawan IBM di 40 negara oleh Geert Hofstede dengan Dimensi Nilai Hofstede dan dilakukan juga oleh GLOBE (Global Leadership and Organization Behavior Effectiveness) dengan melibatkan 18.000 manajer di 62 negara untuk mengidentifikasi dimensi yang diidentifikasi oleh Hofstede.
5.            ANALISIS PEMBAHASAN

Negara

Jarak
Kekuasaan
Tingkat Penghindaran Ketidakpastian

Individualisme

Maskulinitas
Australia
7
7
2
5
Prancis
3
2 (berimbang)
4
7
Jerman
8 (berimbang)
5
5
5
Jepang
5
1
7
1
Thailand
4
6
9
8
Amerika Serikat

6

8

1

4
Sumber: Dorothy Marcic, Organizational Behavior and Cases, edisi keempat (St. Paul, MN: West, 1995). Berdasarkan dua buku tulisan Geert Hofstede: Culture’s Consequences (London: Sage Publication, 1984) dan Cultures and Organizations: Software of the Mind (New York: McGraw-Hill, 1991)
Dimensi Nilai Hofstede
1.      Jarak Kekuasaan. Jarak kekuasaan yang besar berarti bahwa orang-orang menerima ketimpangan kekuasaan yang terjadi di lembaga, organsisasi, dan anggota masyarakat, sementara jarak kekuasaan yang kecil berarti mereka mengharapkan adanya kesetaraan kekuasaan.
2.      Tingkat Penghindaran Ketidakpasatian. Tingkat penghindaran ketidakpastiaan yang tinggi berarti bahwa anggota suatu masyarakat merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian dan ambiguitas, sehingga lebih menyukai kepercayaan yang menjanjikan kepastian dan keseragaman. Tingkat penghindaran ketidakpastian yang rendah berarti bahwa anggota suatu masyarakat memiliki toleransi yang tinggi terhadap ketidakteraturan, ketidakjelasan, dan hal-hal tidak terduga.
3.      Individualisme dan Kolektivisme. Individualisme adalah nilai kerangka sosial yang longgar, yang mengharapkan para individu untuk mengurusi diri mereka sendiri, sedangkan kolektivisme adalah pilihan kerangka sosial ketat yang mengharapkan anggotanya untuk saling menjaga dan mengharapkan organisasi untuk melindungi kepentingan mereka.
4.      Maskulinitas/Feminitas. Maskulinitas adalah sikap yang menutamakan prestasi, heroism, sikap asertif, pekerjaan yang cenderung menuntut, dan kesuksesan material. Feminitas adalah sikap yang mengutamakan nilai-nilai hubungan, kerja sama, pengambilan keputusan dalam kelompok, dan kualitas hidup.
Dimensi
Rendah
Sedang
Tinggi
Sikap Asertif
Swedia
Swiss
Jepang
Mesir
Islandia
Prancis
Spanyol
Amerika Serikat
Jerman
Orientasi Masa Depan
Rusia
Italia
Kuwait
Slovenia
Australia
India
Denmark
Kanada
Singapura
Perbedaan Gender
Swedia
Denmark
Polandia
Italia
Brasil
Belanda
Korea Selatan
Mesir
China
Orientasi Kinerja
Rusia
Yunani
Venezuela
Israel
Inggris
Jepang
Amerika Serikat
Taiwan
Hong Kong
Orientasi Kemanusiaan
Jerman
Prancis
Singapura
Selandia Baru
Swedia
Amerika Serikat
Indonesia
Mesir
Islandia
SUMBER: Mansour Jaridan dan Robert J.House, “Cultural Acumen for the Global Manager: Lessons from Project GLOBE”, Organizational Dynamics 29 no.4(2001): hlm. 289-305.
Dimensi Nilai Proyek GLOBE  
1.      Sikap Asertif. Penghargaan yang tinggi terhadap sikap asertif berarti bahwa suatu masyarakat mengutamakan ketangguhan, sikap asertif, dan persaingan, sedangkan sikap asertif yang rendah berarti bahwa suatu masyarakat lebih menghargai kelembutan dan kepedulian daripada persaingan.
2.      Orientasi Masa Depan. Dimensi ini mengukur sejauh mana suatu masyarakat lebih mengutamakan dan menghargai perencanaan untuk masa depan daripada hasil jangka pendek dan gratifikasi cepat.
1.      Penghindaran ketidakpastian. Dimensi ini mengukur sejauh mana suatu masyarakat merasa nyaman dengan ketidakpastian dan ambiguitas.
2.      Perbedaan Gender. Dimensi ini mengukur sejauh mana suatu masyarakat memaksimalkan perbedaan gender.
3.      Jarak Kekuasaan. Dimensi ini mengukur sejauh mana suatu masyarakat mengharapkan dan menerima kesetaraan atau ketimpangan dalam hubungan dan lembaga.
4.      Kolektivisme Sosial. Istilah ini berarti sejauh mana praktik-pratik di lembaga-lembaga seprti sekolah, perusahaan, dan lembaga sosial lain mendorong terciptanya masyarakat kolektivis yang terikat dengan erat.
5.      Kolektivisme Individual. Dimensi ini mengukur sejauh mana para individu merasa bangga menjadi anggota keluarga, pertemanan, tim, atau organisasi, daripada bagaimana organisasi sosial lebih mengutamakan individualisme atau kolektivisme.
6.      Orientasi Kerja. Masyarakat berorientasi kinerja tinggi mengutamakan kinerja dan menghargai anggotanya karena peningkatan dan kesempurnaan kinerja mereka.
7.      Orientasi Kemanusiaan. Dimensi terakhir mengukur sejauh mana suatu masyarakat mendorong dan menghargai anggotanya karena bersikap adil, dermawan, murah hati, dan peduli.
1.            SIMPULAN KETERBATASAN dan SARAN
6.1   Kesimpulan  
            Kemajuan pesat di bidang teknologi dan komunikasi telah menjadikan dimensi internasional sebagai bagian yang makin penting dari lingkungan eksternal. Lingkungan organisasi yang kini makin bersifat kompetitif dan kompleks, menuntut pola pikir dan pengalaman di kancah internasional makin menjadi syarat kesuksesan manajerial. Para manajer menghadapi realitas bahwa mengabaikan kekuatan-kekuatan internasional merupakan suatu hal yang mustahil dilakukan.
Bisnis telah menjadi suatu bidang terpadu dan global seiring runtuhnya tembok penghalang perdagangan, makin cepat dan murahnya komunikasi, dan makin beragamnya selera konsumen, mulai dari pakaian hingga jaringan telepon seluler. Dewasa ini, perusahaan-perusahaan kecil pun dapat memindahkan berbagai elemen organisasi ke lokasi mana pun yang paling menguntungkan. Komunikasi virtual memungkinkan dilakukannya koordinasi yang rapat dan cepat oleh para pekerja di belahan dunia yang berbeda, sehingga bekerja di tempat yang sama tidak lagi begitu penting. Organisasi-organisasi dapat berpindah ke lokasi mana pun yang memerlukan biaya terendah atau tenaga kerja terbaik. Banyak perusahaan melakukan outsourcing beberapa fungsi kepada kontraktor-kontraktor di negara lain dengan mudah, seolah-olah para kontraktor tersebut berada di dekat perusahaan.
Alternatif-alternatif utama untuk memasuki pasar internasionala adalah outsourcing, ekspor, lisensi dan investasi langsung melalui joint venture atau perusahaan subdier yang dimiliki sepenuhnya. Sebagian besar pertumbuhan bisnis internasional dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang disebut perusahaan multinasional (MNC). Perusahaan-perusahaan besar ini menjalankan bisnis di dunia yang hampir tidak mengenal batas serta mendorong arus ide-ide, produk, produksi, dan pemasaran di berbagai negara untuk mencapai efisiensi terbesar.
6.2   Saran  
            Perusahaan-perusahaan yang berhasil melakukan ekspansi bisnis di luar negeri dapat bersaing tidak hanya dengan perusahaan asing di negara tujuan, namun juga di negara asal mereka. Pasar internasional memang banyak memberikan kesempatan terbuka lebar, tapi tidak menutup kemungkinan juga memiliki banyak kesulitan yang siap menghambat jalannya perusahaan.
            Bisnis di kancah global memiliki berbagai risiko dan kesulitan yang diakibatkan oleh kekuatan-keuatan ekonomi, politik-hukum, dan sosial budaya yang kompleks. Ekspansi kebijakan perdagangan bebas telah memicu reaksi menentang globalisasi dari kalangan yang takut kehilangan pekerjaan dan jaminan ekonomi mereka. Para manajer MNC maupun perusahaan lebih kecil yang menjalankan bisnisnya di kancah internasional, harus sama-sama menghadapi tantangan dan harus mengembangkan kecerdasan budaya (CQ) tinggi agar sukses. CQ yang memiliki aspek kognitif (pikiran), emosional (perasaan), dan fisik (tindakan), akan membantu para manajer dalam menafsirkan situasi asing dan meresponnya dengan cara yang sesuai, karena nilai sosial dan budaya di berbagai negara beragam, hal ini akan mempengaruhi gaya memimpin, mengambil keputusan, memotivasi serta mengendalikan yang sesuai. 
DAFTAR PUSTAKA
Geert Hofstede, “The Interaction Between National and Organizational Value Systems”, Journal of Management Studies 22 (1985), hlm. 347-357; dan Geert Hofstede, “The Cultural Relativity of the uality of Life Concept”, Academy of Management Review 9 (1984), hlm. 389-398.
Daft, Richard L. 2013. Era Baru Manajemen buku satu. Alih bahasa: Tita Maria Kanita. Edisi Sembilan. Jakarta: Salemba Empat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar